Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Juni 2011

Manusia & Cinta Kasih

Dari sebuah cinta dapat melahirkan satu bentuk seni yang dituangkan dalam goresan kertas dan kanvas seperti seni lukis dan gambar.
Dari sebuah cinta dapat melahirkan satu bentuk seni yang memadukan irama dan nada dalam satu dinamisasi yang dikenal sebagai lagu dan seni musik.
Dari sebuah cinta dapat melahirkan satu bentuk seni melalui goresan pena yang disebut sajak, pantun atau novel.
Dari sebuah cinta dapat melahirkan satu bentuk seni yang menggabungkan antara medidisasi nada dan goresan pena yang melahirkan drama, film dan lain sebagainya.
Dan dari sebuah cintalah dapat melahirkan tanggung jawab, baik pada pasangan atau orang yang kita cintai atau pada lainnya, maka
Dari sebuah cintalah terlahir manusia – manusia baru yang menghuni semesta kita ini.
Ungkapan yang ditimbulkan dari satu kata cinta tentulah tidak dapat dilepaskan dari suatu media perantara yang dapat menggambarkan dan memvisualisasikan serta mendefinisikan tentang perasaan “Cinta” tersebut, baik melalui alat komunikasi “bahasa” yang melahirkan sajak, puisi dan lain sebagainya atau bahkan yang meng-irama-kan nada dan shimpony.
Jika kita berbicara mengenai cinta maka itupun tidak dapat dipisahkan dengan unsur – unsur seni dan kebudayaan yang ada. Cinta sama dengan budaya yaitu suatu rasa, karya dan karsa.

Manusia & Harapan

Manusia dan Harapan Harapan dapat diartikan sebagai menginginkan sesuatu yang dipercayai dan dianggap benar dan jujur oleh setiap manusia sehingga bisa menjadi miliknya. Dalam hal ini, seorang manusia dan harapannya agar dapat dicapai, memerlukan kepercayaan kepada diri sendiri, kepercayaan kepada orang lain dan kepercayaan kepada Tuhan. Kepercayaan kepada diri sendiri dapat ditimbulkan dengan mulai memiliki konsepsi diri yang positif baik itu melalui fisik, cara berpikir dan jiwa yang akan membantu dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain ataupun bersosialisasi dengan orang lain sehingga terjalin secara positf dan berkesan dengan baik sehingga apa yang diharapkan dapat terwujud. Adapun kepercayaan kepada orang lain bisa ditimbulkan dengan merasa pantang untuk melakukan kebodohan dan kecurangan ataupun perilaku korupsi sehingga orang lain merasa percaya dalam membebankan apa yang diamanatkannya dan itu merupakan sesuatu yang kita harapkan. Hal tersebut bisa disebut dengan relationship. Kepercayaan terhadap Tuhan dapat diwujudkan dengan menjalankan segala perintah yang disuruh-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya serta beribadah dan beramal sesuai dengan agama yang diyakini. Dalam hal ini pengertian ibadah secara luas dimana kesemua kegiatan berorientasi kepada Tuhan.

Manusia & Kegelisahan

Kegelisahan
Sekarang ini, masa-masa peralihan bagi para siswa dan siswi sekolah baik yang dasar, menengah, dan menengah atas yang tengah harap-harap cemas. Kenapa harap-harap cemas? Ya, karena kini mereka sedang menantikan pengumuman dari tempat menuntut ilmu yang mereka pilih. Yang dari tingkat SD elanjutkan ke tingkat SMP, tingkat SMP melanjutkan ke SMA, serta yang dari tingkat SMA ke tingkat perguruan tinggi, pastinya mereka-mereka itu telah memilih tempat sekolah lanjutan mereka yang mereka inginkan dan tentunya masuk dalam kriteria mereka, misalnya saja yang bertaraf internasional, tergolong dalam sekolah negeri, populer, dan tentunya tempatnya nyaman.
Tapi itu semua mungkin saja ada yang tercapai dan ada yang tidak. Maka dari itu mereka semua mengalami kegelisahan. Jika belum ada pengumuman, pasti kegelisahan itu terus dirasakan sampai dengan datangnya saat-saat yang paling dinanti-nantikan yaitu adalah pada saat  waktu pengumumannya berlangsung.
Harapan mereka sanat besar untuk diterima pastinya, tapi jika takdir berkata lain dan ada harapan mereka yang tidak tercapai, itu juga yang kemudia membuat mereka menjadi sangat gelisah karena pengumuman yang mereka dapat tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Kegelisahan sangat erat kaitannya dengan perasaan ataupun suasana hati yang tentunya tidak enak, diantara pilihan, dan tersakiti oleh lingkungan atau oleh suatu hal apapun yang dirasakannya.
Setiap kegelisahan juga menimbulkan rasa yang sangat nyesak di hati. Saat kita ditimpa bertubi-tubi masalah yang dihadapi. Setiap cobaan yang mampu menghampiri kita.
Jika kita membawa setiap masalah dengan santai dan terbuka terhadap orang lain, maka sedikit demi sedikit dan lama-kelamaan rasa gelisah itu akan berkurang dan bahkan akan hilang dengan sendirinya. Sehingga tidak ada lagi yang akan membebani pikiran dan juga hati kita

Manusia & Tanggung Jawab

Manusia dan Tanggung jawab
Seperti hidup ini, segala yang kita lakukan didunia ini semua pasti akan dipertanggung jawabkan diakhirat nanti. Bagi sebagian orang yang berpendidikan dan berpikiran intelek tanggung jawab sangat penting, karena setiap mereka ingin melakukan sesuatu mereka akan berpikir dan mempertimbangkan resiko apa yang akan mereka hadapi diakhir nanti tidak asal jadi begitu saja.
Hidup memang berat jika terlalu banyak tanggung jawab karena ini itu tetapi kita akan terbiasa dengan tanggung jawab jika kita menjalaninya dengan hati yang ikhlas dan tenang. Kita ambil contoh saja dari kehidupan saya sehari-hari atau dari berbagai pengalaman saya dari saya kecil (mulai mengenal tanggung jawab) sampai saat ini saya menjalani banyak berbagai tanggung jawab.
Sebagai mahasiswa saya bertanggung jawab dan berkewajiban untuk belajar karena dengan belajar dan kuliah yang benar juga sungguh-sungguh insya allah saya akan mendapat masa depan yang lebih cerah dan sukses. Saya tidak ingin kuliah ini menjadi sia-sia karena saya kuliah dengan hasil uang keringat orang tua saya sendiri dan saya akan bertanggung jawab akan segalanya di perkuliahaan, dan saya tidak ingin mengecewakan kedua orang tua saya yang sudah susah payah menguliahkan saya di universitas ini.

Manusia & Pandangan Hidup

MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP

Suasana kelas VI B SD Suka Cerdas mendadak hening setelah Bu Wati guru Bahasa Indonesia masuk ke ruang kelas. Bu Wati memperhatikan semua muridnya. “Sebentar lagi kalian semua akan meninggalkan bangku SD dan melanjutkan ke bangku SMP. Untuk itu, ibu menyuruh kalian agar mempersiapkan sebuah karangan bebas tentang cita-cita kalian setelah selesai menamatkan pendidikan. Besok, satu per satu akan membacakan hasil karangannya di depan kelas,” kata Bu Wati kepada seluruh murid.
Tanpa diperintahkan lagi, seluruh anak didik yang berada di dalam kelas sibuk membuat karangan. Suasana yang tadinya hening mendadak riuh karena murid yang satu dengan murid yang lain saling menanyakan apa cita-citanya nanti. Melihat hal itu, Bu Wati meminta agar semua murid mengerjakannya sendiri-sendiri.
“Ingat, jangan ada yang saling mencontek karena cita-citamu itu adalah keinginan yang akan kalian raih sendiri,” tegas Bu Wati.
Di bangku belakang, Roni terlihat tidak bersemangat padahal teman sebangkunya yang bernama Tono sedang berpikir sambil menuliskan cita-citanya itu ke dalam buku. Roni bingung karena ia belum bisa memikirkan apa cita-citanya nanti karena kehidupan keluarganya yang masih serba kekurangan. Ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Bapaknya hanya penarik becak barang sedangkan ibunya hanya pembantu rumah tangga.
“Apa pantas aku memiliki sebuah cita-cita setelah selesai menamatkan sekolah…? Padahal aku ingin jadi seorang polisi agar bisa berdiri mengatur lalu lintas. Karena kulihat pakaian seragamnya bagus dan gagah,” desis Roni dalam hatinya.
Tak lama kemudian, bel pulang sekolah berbunyi. Bu Wati meminta kepada seluruh murid agar tugas dikerjakan di rumah dan dikumpulkan besok. Bu Wati akan memberikan penilaian kepada murid yang paling bagus dalam mengarang itu.

Dengan langkah yang tak bersemangat, Roni pulang menuju rumahnya. Setelah mengucapkan salam, ia masuk ke dalam rumah. Usai makan siang, ia menemui ayahnya yang sedang beristirahat di depan sambil menikmati hidangan kopi pahit yang dibuat oleh ibunya.
“Ayah, tadi ibu guru memberikan tugas mengarang tentang apa cita-cita setelah lulus pendidikan. Roni berkeinginan jadi seorang polisi. Agar bisa berdiri tegak di perempatan jalan mengatur lalu lintas karena Roni senang melihatnya. Dengan pakaian seragam yang bagus membuat bapak polisi lalu lintas itu terlihat gagah,” ucap Roni sambil memijit-mijit kaki ayahnya.

Mendengar ucapan putranya itu, ayah Roni tertawa terbahak-bahak.

“Roni, kau ini aneh. Cita-citamu ingin menjadi polisi lalu lintas. Dari mana jalannya bisa kau raih. Untuk biaya sekolahmu saja, ayah dan ibumu tepaksa ngutang ke Pak Muslim. Belum lagi, biaya sekolah adikmu Sri dan Dini. Syukur saja ayah dan ibumu bisa menyekolahkanmu sampai SD. Sedangkan untuk SMP nantinya? Ayah dan ibu belum tahu apakah bisa menyekolahkan kau nantinya. Jadi, jangan pernah berhayal bisa jadi polisi,” kata ayah Roni sambil tersenyum.

“Tapi, Yah. Si Tono yang bapaknya pedagang asongan di perempatan jalan itu mempunyai cita-cita ingin jadi seorang guru. Agar bisa membuat orang pintar dan cerdas. Malahan, si Rini yang bapaknya penjahit itu ingin menjadi seorang dokter. Agar bisa nantinya mengobati orang yang sakit,” ujar Roni panjang lebar.

Untuk kedua kalinya, ayah Roni tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ucapan putranya itu.

“Dengar ya! Itu semua hanya khayalan saja. Dari mana mereka mendapat uang untuk bisa meraih cita-citanya itu? Tak usah kau dengar apa cita-cita mereka. Cukup tugasmu bagaimana menyelesaikan sekolah di SD dengan bagus. Biar nanti, ayah dan ibumu tinggal memikirkan biaya sekolah kedua adikmu itu,” ucap ayah Roni sambil memandang putranya.

Mendengar ucapan ayahnya, Roni langsung masuk ke dalam rumah. Ia menumpahkan semua kesedihannya karena keinginan atau cita-citanya yang bagus itu ternyata tidak mendapat dukungan dari ayahnya. Di dalam kamar, ia menangis tersedu.

“Mengapa ayah tidak memberi dukungan kepadaku…? Apa salah bila aku bercita-cita jadi polisi setelah selesai pendidikan, seorang petugas polisi lalu lintas itu kan mulia, mengatur arus lalu lintas dan manusia ke berbagai tujuan,” desis Roni sambil menangis.

Walaupun begitu, malam harinya Roni tetap mengerjakan tugas dari gurunya. Karena ia tak mau nanti dimarahi gurunya gara-gara tidak mengerjakan tugas. Dengan serius, ia menuliskan keinginannya untuk menjadi seorang polisi walau ayahnya tidak mendukung cita-citanya itu.

Keesokan harinya setelah usai sarapan pagi bersama kedua orangtuanya dan juga adiknya. Roni mengucapkan salam untuk pergi ke sekolah. Ia mencium telapak tangan kedua orangtuanya. Dengan riang gembira, Roni terlihat bersemangat berjalan ke sekolah.

Setelah bel tanda masuk berbunyi, para murid SD Suka Cerdas segera berbaris rapi masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Kedatangan Bu Wati disambut dengan ucapan salam dari seluruh muridnya dan menyuruh semua muridnya untuk kembali duduk.

“Sekarang keluarkan tugas mengarang yang ibu suruh kemarin. Ibu akan memberikan nilai kepada murid yang paling bagus dalam menuangkan cita-citanya,” ujar Bu Wati kepada seluruh murid.

Satu per satu murid mengeluarkan buku yang berisikan tugas mengarang. Dengan hati yangberdebar, setiap murid saling memperhatikan antara yang satu dengan yang lainnya ketika buku tugas itu dikumpulkan. Bu Wati dengan serius melihat isi karangan setiap muridnya. Kemudian, Bu Wati meminta kepada Roni untuk membacakan hasil karangannya di depan kelas. Roni tersedak dari lamunannya ketika Bu Wati memanggil namanya. Kemudian, ia berjalan ke depan dan membacakan hasil karangannya setelah Bu Wati memberikan buku tugas kepadanya.

“Cita-citaku ingin mejadi seorang polisi lalu lintas. Karena aku melihat pakaian seragamnya bagus dan penampilannya gagah serta berwibawa. Ia mengatur lalu lintas sambil meniupkan peluit. Sehingga arus lalu lintas berjalan lancar. Walau cita-citaku ini tidak mendapat dukungan dari orangtua, aku tetap berusaha keras untuk bisa mewujudkan keinginanku ini. Walau keadaan ekonomi keluarga kurang bagus tapi aku tidak mau diam dan berpangku tangan begitu saja. Aku akan tetap rajin belajar dan berusaha dengan sekuat tenaga agar nantinya cita-citaku ini dapat tercapai,” ucap Roni dengan bersemangat.

Setelah selesai membacakan hasil karangannya, Bu Wati tersenyum manis kepada Roni. Kemudian Bu Wati meminta kepada Rini untuk tampil di depan kelas membacakan hasil tugasnya. Begitu selanjutnya hingga semua murid bergiliran tampil di depan kelas. Bu Wati bangga usai mendengar cita-cita muridnya itu. Ada yang ingin jadi polisi, guru, dokter, atlit bahkan ada yang ingin jadi menteri.

“Itu semua adalah cita-cita yang bagus. Untuk itu, kalian harus tetap bersemangat dan rajin belajar. Walau keadaan ekonomi keluarga kurang bagus, jangan membuat kalian patah semangat dan akhirnya impian untuk meraih cita-cita itu kandas di tengah perjalanan. Bukan begitu, Roni? Raih keinginan kalian itu dengan cara belajar dan bekerja keras. Ibu yakin kedua orangtua kalian akan mendukung jika kalian mempunyai prestasi yang bagus. Tak ada orangtua yang tak ingin anaknya menjadi orang yang tak berguna,” ucap Bu Wati dengan panjang lebar memberi semangat.

Ternyata setelah semua tugas diperiksa dengan cermat oleh Bu Wati, Roni memperoleh angka sembilan. Karena hasil karangannya bagus dan menarik. Begitu melihat angka sembilan, Roni tersenyum bangga. Ia tak menyangka kalau hasil karangannya ternyata lebih baik dari teman-temannya.

Hingga akhirnya, ia mempunyai rencana ingin menunjukkan hasil karangannya kepada ayahnya. Agar ayahnya bisa mendukung cita-citanya yang ingin menjadi seorang polisi.

“Apa aku salah bila anak seorang tukang becak ingin menjadi polisi? Tidak! Itu tidak salah. Aku akan berusaha agar cita-citaku itu dapat terwujud nantinya,” desis Roni di dalam hatinya penuh semangat.

OPINI
Menurut saya, semua manusia berhak mempunyai cita-cita agar masa depannya menjadi cerah, tidak mengenal latar belakang apapun.

Manusia & Keadilan

MANUSIA DAN KEADILAN
Membicarakan tentang keadilan mungkin sangat sulit untuk menjalani atau menjalankan sebuah keadilan, apa lagi dengan pola pikiran orang yang bermacam-macam rupa. Seperti, dimana ada orang baik pasti ada juga orang jahat, dimana ada orang kaya pasti ada juga orang miskin. Kedua contoh kalimat diatas merupakan sebagian contoh dari berbagai kehidupan disekeliling kita yang mencakup dari empat sifat/karakter yang berbeda-beda, yaitu baik, jahat, kaya dan miskin.
Dalam bidang hukum suatu keadilan sangat berperan penting karena suatu keputusan yang diambil haruslah adil bagi kedua belah pihak. Banyak kasus sidang yang menghasilkan keputusan yang tidak adil bagi korban maupun terdakwa, contohnya saja kasus revaldo yang tertangkap saat mengkonsumsi narkoba dan hakim memutuskan revaldo dihukum penjara selama 7tahun dan denda 1milyar dengan dakwaan sebagai pemakai dan pengedar. Revaldo yang menerima hukuman itu merasa tidak adil karena dia hanya seorang pemakai bukanlah sebagai pengedar, dengan adanya keputusan ini revaldo ingin mencoba naik banding agar hukuman yang dia terima lebih ringan.
Contoh lain dari sebuah ketidak adilan adalah seringnya perdebatan dan perebutan sengketa tanah antara pemilik bangunan dan yang merasa pemilik tanah. Berita sengketa tanah yang belum lama ini adalah orang-orang yang tinggal di lahan kosong di pulo mas yang digusur untuk membangun sebuah apartemen. Mereka merasa dirugikan dan diperilakukan tidak adil, karena mereka sudah tinggal dan menetap lama dilahan itu dan pada saat penggusuran mereka tidak diberikan waktu untuk pindah atau mencari tempat tinggal lain. Sampai pada saat penggusuran mereka tidak pindah dan mereka meminta ganti rugi tempat tinggal yang layak karna bangunan rumah mereka sudah dihancurkan secara paksa.
Berbicara soal keadilan memang tidak ada habisnya karena didunia ini manusia harus dihadapkan dengan suatu pilihan yang tentu saja disetiap pilihan itu memiliki resiko maupun dampak akibatnya. Rakyat Indonesia bisa dibilang belum mendapatkan arti dari sebuah keadilan yang sudah dijanjikan presiden dan para mentri maupun pemerintah karena sampai sekarang rakyat belum bisa dibilang makmur dalam bidang ekonomi maupun bidang-bidang yang lainnya.
Dahulu seorang calon presiden maupun partai mamiliki visi, misi dan janji untuk memakmurkan kesejahteraan rakyatnya maka dengan iming-iming itupun rakyat memilih seorang pemimpin yang peduli akan rakyatnya. Sampai seseorang terpilih menjadi presiden atau pemimpin rakyat belum bisa mendapatkan kesejahteraan yang mereka inginkan dan peminpin iti janjikan, rakyat merasa tidak mendapatkan keadilan dari seorang presiden maupun pemerintah seprti yang mereka janjikan dahulu pada saat pemilihan umum.
Rakyat meminta keadilan kepada seorang pemimpin negara karena dahulu mereka memilih atas dasar iming-iming, janji-janji dan sejumlah uang yang diberikan oleh segelintir orang dari tim sukses calon pemimpin. Sampai sekarangpun kenapa sering ada aksi demo itu karena adanya rasa kesal dari rakyat yang sudah bosan dengan janji-janji palsu para pemimpin yang hanya cuma bisa mengumbar janji tanpa bisa mereka tepati, sampai-sampai ada yang namanya hari buruh internasional buruh sedunia.
Hari buruh internasional sedunia diadakan karena dengan adanya hari buruh intenasional sedunia semua buruh didunia bisa menunjukan atau mengapresiasikan keinginan mereka untuk berbagai macam keluhan, dengan cara beraksi demo besar-besaran para pendemo bisa menyatakan keinginan agar apa yang mereka inginkan itu  tercapai yaitu keadilan, dari kenaikan gaji sampai perubahan status pekerjaan yang tadinya hanya pekerja kontrak menjadi pekerja tetap.
Para pekerja berdemo ingin meminta keadilan dari tempat mereka berkerja yang merasa selama mereka berkerja belum mendapatkan keadilan. Ada pekerja yang ingin meminta kenaikan gaji karena selama kerja ditempat itu mereka belum merasakan mendapat kenaikan gaji padahal mereka sudah mengabdi dan berkerja selama puluhan tahun. Dan banyak juga pekerja yang ingin meminta kejelasan status kerja mereka, karena mereka yang sudah berkerja bertahun-tahun bahkan belasan tahun masih saja menjadi pekerja kontrak dan belum diangkat menjadi pekerja tetap apa lagi naik jabatan.
Jadi kita sebagai orang harus bisa berikap adil dengan sesama manusia, dengan keadan dan situasi, juga dalam mengambil keputusan, walau berat untuk kita mengambil keputusan dan bersikap adil karena dengan adanya keputusan kita harus bisa adil.

Manusia & Penderitaan

Di masa-masa kini, sepertinya penderitaan tidak pernah berhenti menghampiri dan meninpa Indonesia. Berbagai macam peristiwa menghampiri dan membuat banyak orang  menjadi merasa menderita, harus menangis dan sedih karena ditinggalkan orang-orang yang dikasihi dan dicintai, kedinginan karena rumahnya terhempas oleh badai tsunami atau karena kebanjiran, kepanasan karena tidak memiliki rumah tempat tinggal untuk tempat tinggal sudah ambruk dan rusak atau hancur karena terkena gempa, sehingga penderitaan yang panjang harus dialami dan dirasakan oleh orang-orang yang tertimpa penderitaan tersebut.
Dan sebagian besar dari kita ketika mendengar kata “derita” mungkin merasa sangat ketakutan dan was-was, atau mungkin ada orang yang sudah bosan dengan penderitaan yang dialaminya sendiri. Bagi orang-orang yang ketakutan karena terkena penderitaan, jangan sampai penderitaan itu sampai kepadanya untuk memikirkannya saja sudah merasa takut.
            Maka dari hal itu orang harus melakukan dengan berbagai cara agar dirinya tidak bertemu dengan penderitaan itu. Sedangkan orang yang sudah menganggap dirinya sering dijumpai penderitaan akhirnya hanya pasrah menerimanya, karena tidak memiliki kuasa apapun dalam dirinya. Penderitaan mengaturnya menjadi pribadi yang pasrah, tanpa sikap yang jelas.
Manusia sering mengalami kedua hal tersebut. Takut dengan penderitaan tetapi memang  sering kali orang harus menerima penderitaan tersebut tanpa kekuatan dan ketidak berdayaan. Manusia tidak mampu mengatur dirinya sendirian.
Dan semua manusia rata-rata memiliki keterbatasan dalam hal berpikir. Dalam keadaan ini, manusia tidak akan pernah lepas dari bantuan Tuhan Yang Maha Esa. Karena manusia diciptakan oleh Tuhan.

Manusia & Keindahan

MANUSIA DAN KEINDAHAN


Keindahan tidak lain dari sesuatu yang menarik untuk dinikmati yang mampu menyeret jiwa manusia  dalam buaian cinta yang tiada pernah memberi akan tetapi selalu menerima, yang tidak pernah menuntut untuk dimiliki namun hanya menuntut untuk dirinya sendiri.
Keindahan bentuk dari suatu pencarian, dia jauh namun dekat dan ketika kita menemukannya didalam relung hati, itulah suatu keagungan dan kemuliaan karena dia merupakan pencampuran dari suatu penderitaan dengan kebahagiaan, perpaduan antara tangis dan tawa dalam irama kehidupan.
Keindahan itu suatu konsep abstrak yang tidak dapat dinikmati karena tidak jelas. Keindahan itu baru jelas jika telah dihubungkan dengan sesuatu yang berwujud atau suatu karya. Dengan kata lain keindahan itu baru dapat dinikmati jika dihubungkan dengan suatu bentuk. Dengan bentuk itu keindahan dapat berkomunikasi.
Manusia setiap waktu memperindah diri, pakaian, rumah, kendaraan dan sebagainya agar segalanya tampak mempesona dan menyenangkan bagi yang melihatnya. Semua ini menunjukkan betapa manusia sangat gandrung dan mencintai keindahan. Seolah-olah keindahan termasuk konsumsi vital bagi indera manusia. Tampaknya kerelaan orang mengeluarkan dana yang relatif banyak untuk keindahan dan menguras tenaga serta harta untuk menikmatinya, seperti bertamasya ke tempat yang jauh bahkan berbahaya, hal ini semakin mengesankan betapa besar fungsi dan arti keindahan bagi seseorang. Agaknya semakin tinggi pengetahuan, kian besar perhatian dan minat untuk menghargai keindahan dan juga semakin selektif untuk menilai dan apa yang harus dikeluarkan untuk menghargainya, dan ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi orang yang dapat menghayati keindahan.

Manusia & kebudayaan

MANUSIA DAN KEBUDAYAAN

Kebudayaan Indonesia dapat didefinisikan sebagai seluruh kebudayaanIndonesia pada tahun 1945. Seluruh kebudayaan lokal yang berasal dari kebudayaan beraneka ragam suku-suku di Indonesia merupakan bagian integral daripada kebudayaan Indonesia. lokal yang telah ada sebelum bentuknya nasional

1. Kelompok pertama yang mengatakan kebudayaan Nasional Indonesia belum jelas, yang ada baru unsur pendukungnya yaitu kebudayaan etnik dan kebudayaan asing. Kebudayaan Indonesia itu sendiri sedang dalam proses pencarian.

2. Kelompok kedua yang mengatakan mengatakan Kebudayaan Nasional Indonesia sudah ada. pendukung kelompok ketiga ini antara lain adalah Sastrosupono. Sastrosupono. Sastrosupono. Sastrosupono mencontohkan, Pancasila, bahasa Indonesia, undang-undang dasar 1945, moderenisasi dan pembangunan (1982:68-72).

Selanjutnya, walau Kebudayaan Indonesia beraneka ragam, namun pada dasarnya terbentuk dan dipengaruhi oleh kebudayaan besar lainnya seperti kebudayaan Tionghoa, kebudayaan India dan kebudayaan Arab. Kebudayaan India terutama masuk dari penyebaran agama Hindu dan Buddha di Nusantara jauh sebelum Indonesia terbentuk. Kerajaan-kerajaan yang bernafaskan agama Hindu dan Budha sempat mendominasi Nusantara pada abad ke-5 Masehi ditandai dengan berdirinya kerajaan tertua di Nusantara, Kutai, sampai pada penghujung abad ke-15 Masehi.

 Kesimpulan adalah keanekaragaman yang ada di Kebuyaan Indonesia ini sebenarnya bersumber atau berawal dari kebudayaan besar yang katanya berasal dari luar Kebudayaan kita, dan yang seperti saya tuliskan dalam artikel ini.